Sejarah Hidup Sunan Giri

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp
Sunan Giri, Khas Gresik

Khasgresik.com – Salah satu wali songo di Kota Gresik adalah Sunan Giri. Beliau adalah majelis penyebar dakwah Islam pertama di Jawa pada abad ke-14 Masehi seiring dengan munculnya kesultanan Demak dan Menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Sunan Giri,

Apabila Anda Ziarah Wali Songo di Kota Gresik maka destinasi adalah Makam Sunan Giri di Desa Giri , Kebomas , Gresik. Dimana sudah menjadi salah satu objek wisata regili oleh Pemerintah Kabupaten Gresik.

Berikut adalah detail informasi mengenai Sunan Giri yang bisa Anda pelajari kisah sejarah hidup beliau.

Mengenal Sunan Giri

Sunan Giri merupakan salah satu dari 9 wali ( Wali Songo ) yang menyebarkan dakwah dan Ajaran Agama Islam di Nusantara. Nama Lain Sunan Giri adalah Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin, Joko Samudro

Namun nama lahir atau nama asli Sunan Giri adalah Jaka Samudro. Oleh karena itu di Gresik terdapat stadion terbesar dan diberi nama Stadion Joko Samudro.

Sunan Giri membangun Giri Kedaton. Dimana Kerajaan Giri Kedaton merupakan pusat penyebaran Agama Islam di Jawa dan memiliki pengaruh sampai keluar pulau, seperti Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Silsilah Sunan Giri

Menurut Wikipedia, Sunan Giri merupakan Putra dari Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu. Dimana Maulana Ishaq adalah seorang mubaligh Islam yang berasal dari Asia Tengah. Sedangkan Ibu Sunan Giri ( Dewi Sekardadu ) merupakan puteri Prabu Menak Sembuyu dimana pada saat itu menjadi penguasa wilayah Blambangan pada akhir Kerajaan Majapahit.

Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW yakni melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandy (Ibrahim Asmoro), Maulana Ishaq, dan Ainul Yaqin (Sunan Giri). Hal tersebut berdasarkan riwayat pesantren pesantren di Jawa Timur dan Catatan Nasab Sa’adah BaAlawi Hadramaut.

Pendidikan dan Keilmuan

Pada masa kecilnya, Sunan Giri sudah mempelajari Agama Islam dan ikut berdakwah hingga seluruh pelosok nusantara. Namun karena Sunan Giri merupakan keturunan raja dari Pihak Dewi Sekardadu, kisah hidup beliau tidak mulus. Bahkan beliau pernah diasingkan atau dibuang.

Baca Juga  Musrenbang Anak Jadi Wadah Penyaluran Pendapat dan Pemenuhan Hak Dasar Anak

Hal ini dikarenakan pernikahan Ayah dan Ibu Beliau tidak disukai oleh banyak pihak, terutama oleh para patih yang ingin menyunting Dewi Sekardadu.

Bahkan Ajakan Maulana Ishaq kepada Prabu Menak Sembuyu untuk masuk Islam, membuat Prabu Menak Sembuyu murka. Hal ini karena selain yang bersangkutan adalah Penguasa Wilayah Blambangan juga karena tidak berkenan untuk meninggalkan keyakinannya.

Sehingga Maulana Ishaq diusir dari Blambangan. Padahal Dewi Sekardadu pada saat itu sedang hamil tua dan dipisahkan oleh Prabu Menak Sembuyu untuk dipaksa tetap di Blambangan. Sementara Maulana Ishaq meneruskan perjalanannya ke daerah lain.

Dikarenakan hal tersebut dan merana, Dewi Sekardadu meninggal dunia pada saat melahirkan Sunan Giri pada tahun 1442 di Blambangan.

Karena satu dan lain hal seperti datangnya wabah, dimana Prabu Menak Sembuyu mengkaitkan atau berkeyakinan karena bayi laki – laki yang dilahirkan putrinya, Dewi Sekardadu. Maka untuk mengusir wabah tersebut, Patih kerajaan meletakkan bayi tersebut di sebuah peti dan dihanyutkan ke laut.

Di tengah laut, bayi tersebut tersangkut di kapal milik Nyai Pinatih yang sedang bertolak ke Bali.

Nyai Pinatih adalah janda kaya raya di Gresik. memiliki seorang suami Koja Mahdum Syahbandar. Nama Pinatih sendiri berkaitan dengan nama keluarga Ksatria Manggis di Bali yang merupakan keturunan Penguasa Lumajang yang juga keluarga Maharaja Majapahit yang awal sekali memeluk Islam.

Bayi yang tersangkut di kapal itu diambil oleh awak kapal dan diserahkan kepada Nyai Pinatih yang kemudian memungutnya menjadi anak angkat. Karena ditemukan di laut, maka bayi itu dinamai Jaka Samudra. Setelah cukup umur, Jaka Samudra dikirim ke Ampeldenta untuk berguru kepada Sunan Ampel. Menurut Babad Tanah Jawi, sesuai pesan Maulana Ishak, oleh Sunan Ampel nama Jaka Samudra diganti menjadi Raden Paku.

Dakwah dan Kesenian

Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden ‘Ainul Yaqin kembali ke Giri kemBabad Tanah Jawi dikisahkan bahwa Raden Paku dan Raden Mahdum Ibrahim pernah bermaksud pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu sekaligus berhaji. Namun, keduanya hanya sampai di Malaka dan bertemu dengan Maulana Ishak, ayah kandung Raden Paku. Keduanya diberi pelajaran tentang berbagai macam ilmu keislaman, termasuk ilmu tasawuf.

Di dalam sumber yang dicatat pada silsilah Bupati Gresik pertama bernama Kyai Tumenggung Pusponegoro, terdapat silsilah tarekat Syathariyah yang menyebut nama Syaikh Maulana Ishak dan Raden Paku Sunan Giri sebagai guru Tarekat Syathariyah, yang menunjuk bahwa aliran tasawuf yang diajarkan Maulana Ishak dan Raden Paku adalah Tarekat Syathariyah. Kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.

Baca Juga  Awal Mula Penyebaran Agama Islam Di Kota Gresik Oleh Syech Maulana Malik Ibrahim

Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera (terutama bagian selatan) dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.

Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap berhubungkan dengan Sunan Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.

Makam Sunan Giri

Bersama para santri dan warga sekitar, Sunan Giri mempertahankan wilayah Giri dan mendirikan Kerajaan Giri Kedaton atau Kedatuan Giri. Sunan Giri wafat pada 1506 M

Kelihaian Sunan Giri dalam berdiplomasi menjadikan kerajaan Giri berjaya selama beberapa generasi hingga akhirnya ditaklukkan oleh Sultan Agung dari Kerajaan Mataram pada abad ke-16.

Beliau dimakamkan di atas bukit dalam cungkup berarsitektur khas Jawa yang sangat unik. Makam Sunan Giri terletak di Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas dimana hanya berjarak 4 KM dari pusat kota gresik.

Secara keseluruhan lingkungan makam ini nampak sakral dan berwibawa. Secara tata kelola keruangan arkeologis, area komplek makam Sunan Giri ini terbagi menjadi 3 langkan (area/bagian menuju bangunan utama dalam budaya Jawa) dengan gapuro sebagai penandanya, yaitu : area pertama/terluar berupa Gapura Bentar dengan Kala Makara berbentuk sepasang naga, area kedua juga berupa Gapura Bentar yang sudah tidak berbentuk, dan area ketiga berupa Gapura Paduraksa, kemudian area inti/ utama yaitu cungkup kubur Sunan Giri.

Kompleks pemakaman yang terletak pada ketinggian 120 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini masih melestarikan konsep undaan bangunan Kerajaan Astana Giri Kedaton. Pada selatan gapura bagian utara, terdapat kompleks makam Sunan Prapen beserta keluarganya. Kompleks pemakaman Sunan Prapen dan keluarganya ini sedikit menjorok keluar dari kompleks pemakaman Sunan Giri. Raja keempat dari Giri Kedaton tersebut merupakan keturunan Sunan Giri yang paling sukses membawa kerajaan dan menyebarkan Islam di wilayah Jawa bagian Timur.

Astana Giri Kedaton dikelilingi gunung-gunung berstatus mati seperti Gunung Wurung. Gunung Wurung ini berasal dari kisah sakit keras dan meninggalnya ibu asuh Sunan Giri bernama Nyai Ageng Pinatih pada 1478.] Atas kisah kesedihan itu, gunung ini diberi nama Gunung Wurung. Gunung ini berlokasi di bagian selatan Astana Giri Kedaton yang dimana jasad Ageng Pinatih disemayamkan. Kemudian pada sisi timur Astana Giri Kedaton terdapat Gunung Petukangan. Disebut demikian karena di tempat itu Sunan Giri bersama Syeh Koja dan Syeh Grigis bergotong-royong bersama murid-muridnya untuk membangun mushala (tempat ibadah umat Islam berukuran kecil-sedang).

Baca Juga  Sejarah Tentang Siti Fatimah Binti Maimun

Terdapat satu lagi tempat yang merupakan hasil temuan dan kerja keras Beliau beserta murid-muridnya. Adapun tempat tersebut bernama Sumber. Tempat ini adalah tempat galian yang memunculkan sumber mata air deras yang pada masanya dimanfaatkan sebagai pengairan. Kemudian tempat ini dinamai sebagai Desa Sumberrejo. Hingga kini, Desa Sumberrejo ini memasok mayoritas pengairan dan kebutuhan air wilayah Kabupaten Gresik.

Kompleks pemakaman keluarga inti yang terdiri dari anak-anak dan istri-istri Sunan Giri berada pada undakan ketiga. Pada lingkaran undakan kedua, disemayamkan jasad-jasad kerabat dekat, saudara kandung, serta saudara satu asuh Sunan Giri. Selain itu, di luar pagar terdapat makam Sunan Prapen atau nama lahirnya Mas Ratu Pratikal beserta makam keluarganya.

Semoga artikel diatas bisa memberikan banyak ilmu mengenai Beliau, Apabila Anda ingin mengetahui lebih banyak mengenai beliau bisa mengikuti Kategori Sunan Giri. Atau berlangganan email kami.

Jangan lupa untuk share informasi ini untuk Keluarga, Saudara dan teman agar ilmu yang didapatkan menjadi berguna dunia akhirat. Amiin.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Never miss any important news. Subscribe to our newsletter.