Rusia Tarik Pasukan Dekat Ukraina Setelah Rumor Invasi?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp
Rusia, Pasukan Rusia

Setelah membuat negara Barat bergidik tegang soal rumor invasi, Rusia secara terbuka menyatakan menarik pasukan di dekat perbatasan Ukraina pada Selasa (15/2).
Penarikan pasukan ini berlangsung sehari sebelum Rusia dirumorkan akan menyerbu Ukraina hari ini.

Padahal ketegangan Rusia-Ukraina terus memanas dalam dua bulan terakhir. Rusia bahkan disebut terus menumpuk pasukan dan alat tempur di perbatasan dekat Ukraina sambil melakukan berbagai latihan militer.

Tak lama dari pengumuman penarikan pasukan, Presiden Vladimir Putin bahkan menyatakan Rusia tak ingin perang dengan Ukraina. Alih-alih perang, Putin ingin mengajukan negosiasi.

Khas Gresik, Gresik,

Pengamat menilai pengerahan pasukan yang dilakukan Rusia merupakan “gimik” belaka agar pada akhirnya situasi dapat mengikuti kepentingan Moskow.

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, mengatakan Rusia memang sejak awal tak berniat perang. Tindakan mereka selama ini di Ukraina, menurutnya hanya sebagai gertakan.

“Ya, gertakan ala Putin. Sejak awal Rusia tak mau menyerang Ukraina,” kata beliau Rabu (16/2).

Tuntutan Rusia di antaranya, Ukraina tak bergabung dengan NATO, meminta blok ini menarik pasukan di negara-negara Eropa Timur, dan meminta gencatan senjata 2015 di Ukraina bisa dilaksanakan.

Menurut Rezasyah, ketegasan Rusia selama sebulan terakhir di wilayah perbatasan sudah berhasil memastikan Ukraina tidak akan pernah menjadi anggota NATO.

“(Rusia) mengharapkan Ukraina netral dan tidak memihak aliansi militer apapun,” kata dia.

Rezasyah mengakui penempatan pasukan Rusia di sepanjang perbatasan berhasil membuat 30 negara anggota NATO kelimpungan.

Dengan demikian, NATO bertindak hati-hati, dan tidak akan pernah lagi mengulangi ambisi dan agenda tertentu untuk bergerak mendekati “halaman rumah” Rusia.

Lebih lanjut, Rezasyah menjelaskan, gelar pasukan Rusia menggambarkan ketegasan Moskow sebagai pemimpin atas seluruh negara bekas Uni Soviet sekaligus menguji kekompakan NATO yang dinilai tak lagi padu.

Selain itu, Rusia dianggap sudah berhasil mencapai tujuan jangka panjang di Eropa, Asia, Timur Tengah dan Amerika Latin tanpa kehilangan eksistensinya.

Baca Juga  Sejarah Bagunan Terbesar Se-Asia Tenggara, Masjid Istiqlal
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Never miss any important news. Subscribe to our newsletter.