Pengertian Puasa Nazar : Rukun, Kapan, Niat dan Manfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp
puasa nazar

Selain Puasa Ramadan, terdapat sejumlah puasa wajib lainnya yang mesti dikerjakan seorang muslim, salah satunya adalah puasa nazar.

Siapa saja yang sudah bernazar akan berpuasa, maka ia wajib menunaikan puasa tersebut. Jika tidak, ia sudah berdosa besar kepada Allah SWT.

Pengertian Puasa Nazar

Dalam bahasa Arab, “nazar” artinya janji, baik itu janji melakukan hal baik ataupun buruk. Sedangkan dalam Islam, nazar artinya menyanggupi atau berjanji melakukan ibadah yang aslinya tidak wajib.

Namun ia mewajibkan dirinya untuk menunaikan ibadah tersebut, sebagaimana dilansir dari NU Online.

Berdasarkan pengertian di atas, nazar lazimnya dijanjikan pada ibadah sunah, serta tidak sah bernazar pada perkara mubah, makruh, ataupun haram.

Sebagai misal, seorang siswa bernazar jika ia lulus ujian seleksi masuk perguruan tinggi, maka ia akan puasa Daud dua bulan penuh.

Puasa Daud yang sebelumnya merupakan perkara sunah, jika sudah dinazarkan, maka menjadi ibadah wajib. Ketentuan mengenai wajibnya menunaikan nazar ini tertera dalam Alquran surah Al-Insan ayat ke-7:

Khas Gresik, Gresik,

“Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana,” (QS. Al-Insān[76]: 7).

Puasa nazar dapat diniatkan puasa Daud, puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (hari-hari putih), puasa Asyura (10 Muharam), puasa Arafah (9 Zulhijah), puasa enam hari pada bulan Syawal, dan lain sebagainya.

Patut menjadi catatan, puasa nazar hanya bisa diniatkan pada puasa yang sebelumnya sunah, sebaliknya pada puasa yang sudah wajib, maka hal itu tidak bernilai nazar sama sekali.

Misalnya, seseorang bernazar puasa Ramadan, maka nilai nazarnya gugur karena puasa Ramadan sudah wajib, kendati belum dinazarkan.

Demikian juga nazar pada puasa yang diharamkan. Misalnya, seseorang bernazar untuk berpuasa di Hari Raya Idul-adha atau Hari Raya Idul-fitri, maka nazarnya batal karena tidak ada nazar untuk kemaksiatan atau melanggar aturan Allah SWT, sebagaimana dikutip dari laman Kemendikbud.

Rukun Puasa Nazar

1. Nadzir (Orang yang Bernazar)

Nazar sah apabila nadzir (orang yang bernazar) memenuhi kriteria berikut  ini : Beragama islam, atas kehendak sendiri (bukan terpaksa) , orang yang sah tasharrufnya (baligh dan berakal ), memungkinkan untuk melaksanakan nazarnya.

Baca Juga  Kumpulan Ucapan Hari Raya Idul Fitri Terbaru 2022

Maka tidak sah nazar anak kecil, orang gila, dalam keadaan dipaksa, melakukan perkara yang tidak memungkinkan untuk melaksanakannya seperti nazar puasa bagi orang yang sakit parah dan nazar orang kafir.

2. Shighah (Pelafadzan yang Bermakna Nazar) 

Lafadz nazar ada 2 jenis, yaitu:

  • Lafadz Muthlaq, lafadz mutlak itu lafadz nazar yang disebutkan secara mutlak tanpa ada keterangan dan ikatan lainnya, seperti: “saya bernazar saya akan sholat”, atau “demi Allah, Saya akan Puasa”. Mutlak tanpa ada embel-embel.
  • Lafadz Muqoyyad (mengikat), sedangkan lafadz yang mengikat ialah seperti, “Demi Allah, jika ayah saya pulang ke tanah air, nazar saya ialah saya akan puasa selama 2 hari!
    Nah ketika ikatannya itu terpenuhi yaitu “ayahnya pulang ke tanah air”, maka wajib baginya untuk berpuasa 2 hari sesuai yang telah di nazarkan. 

3. Al-Mandzur (Pekerjaan yang di Nazari). 

Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam mandzur itu sendiri agar nazar-nya itu menjadi sah, dan jika ada syarat yang tidak terpenuhi maka belum bias disebut nazar. Dan syarat-syarat mandzur ialah :

  • Bukanlah suatu kemaksiatan. Ulama Sepakat bahwa nazar yang sah dan boleh ditunaikan adalah yang tidak mengandung kamksiatan kepada Allah.
    Seperti nazar mau mencaci maki orang, mencuri dan lainnya. Dan ini merupakan Ijma’ (konsesus) seluruh Ulama bahwa nazar tidak sah jika itu suatu kemaksiatan. Ini didasarkan oleh hadits :

لا نذر في معصية الله

Tidak ada nazar dalam kemaksiatan kepada Allah.” (HR. Muslim)

  • Bukanlah suatu kewajiban bahwa yang dinazari itu bukanlah suatu yang memang sudah wajib sebelumnya.  Tidak dibenarkan seseorang bernazar dengan mengatakan, 
    “saya bernazar akan berpuasa ramadan penuh tahun ini”. Nazar atau tidak, berpuasa ramadan sebulan penuh ialah suatu kewajiban buat setiap orang muslim yang mukallaf. 

Tata Cara Menunaikan Puasa Nazar dan Niatnya

Khas Gresik, Gresik,

Untuk melaksanakan puasa nazar, seorang muslim dapat melakukannya sebagaimana puasa-puasa pada umumnya. Rinciannya adalah sebagai berikut:

1. Puasa dimulai dengan sunah bersahur sebelum waktu imsak. Jika tidak bersahur juga tak apa-apa.

2. Membaca niat puasa nazar sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ النَّذَرِ لِلّٰهِ تَعَالىَ

“Nawaitu Shauma Nadzri Lillahi Taala

“Artinya: “Saya berniat puasa nazar karena Allah Ta’ala.”

3. Menahan lapar dan haus, serta pembatal puasa lainnya, seperti berhubungan suami istri di siang hari puasa.

Baca Juga  Pengertian Puasa 'Asyura: Rukun, Kapan, Niat, dan Manfaatnya

4. Berbuka di waktu matahari terbenam atau ketika masuk waktu Magrib.

Doa buka puasanya adalah sebagai berikut:

اللهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مَنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu, taqabbal minnii innaka antassamii’ul aliim”

Artinya, “Ya Allah, untuk-Mu puasaku dan atas rizki-Mu aku berbuka, maka terimalah dariku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Never miss any important news. Subscribe to our newsletter.