Lumpia, Makanan Tradisional Khas Semarang ini Ada Sejak Abat Ke-19

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp
lumpia

Tjoa Thay Joe kemudian bertemu dengan Mbak Wasih, orang asli Jawa yang juga berjualan makanan yang hampir sama, hanya saja rasanya lebih manis dan berisi kentang juga udang.

Khas Gresik, Gresik,

Seiring waktu bejalan, mereka ternyata saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Bisnis yang dijalankan pun akhirnya dilebur menjadi satu dengan sentuhan perubahan yang malah makin melengkapi kesempurnaan rasa makanan lintas budaya ini.

Cita Rasa dan Keunggulan Lumpia

Isi dari kulit jajanan tersebut diubah menjadi ayam atau udang yang dicampur dengan rebung, serta dibungkus dengan kulit lunpia khas Tiong Hoa.

Keunggulannya adalah udang dan telurnya yang tidak amis, rebungnya manis, serta kulit lumpia yang renyah jika digoreng.

Jajanan ini biasanya dipasarkan di Olympia Park, pasar malam Belanda tempat biasa mereka berjualan kala itu. Oleh karena itu makanan ini dikenal dengan nama lumpia.

Usahanya makin besar, hingga dapat diteruskan oleh anak-anaknya, Siem Gwan Sing, Siem Hwa Noi yang membuka cabang di Mataram, dan Siem Swie Kiem yang meneruskan usaha warisan ayahnya di Gang Lombok no 11.

Tanpa disangka, lumpia buatan mereka menjadi primadona di kalangan keturunan Tionghoa maupun masyarakat pribumi.

Hingga saat ini, jajnan khas Semarang ini dikenal luas hingga seluruh Indonesia. Sajian ini terkenal dengan rasa manis dan gurih yang disajikan dengan saus manis nan kental dengan acar dan lokio.

Dalam perkembangannya, kini penyajian jajanan ini ada dua pilihan, lumpia goreng dan lumpia basah.

Itulah sedikit kutipan tentang lumpia, salah satu makanan khas Semarang yang sampai saat ini terkenal diseluruh Indonesia.

Baca Juga  Sejarah Awal Mula Adanya Ketupat di Indonesia
Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Never miss any important news. Subscribe to our newsletter.