Kisah dibalik Jembatan Merah Surabaya dan peristiwa 10 November.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp
Jembatan Merah

Bagi arek-arek Surabaya, Jembatan Merah sendiri merupakan bangunan yang amat bersejarah, bagi mereka jembatan merah  adalah lambang keberanian  arek-arek Surabaya dalam melawan  penjajah di jaman penjajahan dulu dan cerita ini tetap abadi dari generasi ke generasi. Namun untuk masyarakat di luar kawasan Surabaya pasti bertanya-tanya mengapa bangunan  atau jembatan  ini diberi nama “Merah” mari kita bahas dalam artikel ini.

Sejarah dari Jembatan Merah

Jembatan Merah

Jembatan Merah sudah lama menjadi ikon Kota Surabaya, karena asal-usul pembangunan dan kisah dibaliknya yang amat bersejarah. Letak Jembatan Merah sendiri menghubungkan Jalan Rajawali dan jalan Kembang Jepun, yang mana dalam buku sejarah awal mula pembangunannya atas kesepakatan Pakubuwono II dari Kerajaan Mataram dengan VOC sejak 11 November 1743.

Cerita dibalik nama “Merah” adalah diawali dengan terjadinya pertumpahan darah di atas jembatan ini semasa jaman penjajahan, yaitu antara arek-arek Surabaya melawan tentara sekutu pada tahun 1945.Bung Tomo yang juga merupakan berperan dalam pertempuran ini terjadi di kawasan Viaduct atau berjarak kira-kira 500 meter dari Jembatan Merah.

Cerita tak hanya berhenti disitu saja, sekitar 50 meter di sebelah barat Jembatan Merah merupakan lokasi terjadinya mobil Brigadir Jenderal AWS Mallaby meledak. Sebagai informasi Brigadir Jenderal AWS
Mallaby merupakan pimpinan tentara sekutu dalam pertempuran dengan pejuang di Surabaya, dalam kejadian meledaknya mobil sang Brigadir, Brigadir Jendral AWS Mallaby pun ikut tewas di tempat.


Lalu tempat tewasnya Brigadir Jendral AWS Mallaby, hingga kini di jadikan taman oleh masyarakat sekitar yang diberi nama Taman Jayengprono. Kini taman tersebut berlokasi tepat berada di depan Jembatan Merah Plaza, taman ini sangat terkenal dan banyak wisatawan lokal yang sering mengunjungi untuk sekedar bersantai atau mungkin sedang berbelanja di Jembatan Merah Plaza kemudian berkunjung ke taman ini untuk mengabadikan foto.

Untuk Jembatan Merah sendiri pernah mengalami perubahan fisik sekitar pada tahun 1890-an. Adapun perubahan yang mencolok adalah pagar pembatas Jembatan Merah yang awalnya kayu diubah menjadi besi. Hingga saat ini bentuk fisik atau pemandangan disekitarnya pun sama seperti jembatan pada umumnya yang berada di tempat lain, namun Jembatan Merah punya keunikan tersendiri yang menjadi daya tarik tersendiri, yaitu mempunyai warna merah keseluruhan.

Khas Gresik, Gresik,

Pada dasarnya bangunan ini mempunyai banyak sekali sejarah, dan begitu juga wilayah disekitarnya, banyak tempat-tempat menarik yang juga tidak kalah nilai sejarahnya. Misalnya, disebelah barat Jembatan Merah kita bisa menjumpai gedung atau bangunan kuno yang legendaris, seperti Gedung Internatio bangunan megah yang sangat mencolok, besar dan sangat luas, Gedung ini menjadi markas Pasukan Komandan Brigade ke-49 Inggris, yang mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Di Gedung inilah menjadi salah satu tempat pengelolaan perdagangan pada masa itu, lalu untuk dibangunnya sendiri Gedung yang dulunya bernama Internationale Crediten Handelvereeniging ini dibangun pada tahun 1927 dan selesai pada tahun 1931. Lalu ada lagi Gedung Cerutu dan Gedung Singa yang tak kalah bersejarah.

Khas Gresik, Gresik,

Untuk disebelah timur dari Jembatan Merah sendiri ada jalan yang bernama Kembang Jepun serta Gapura yang menjadi gerbang kawasan niaga kya-kya.

Baca Juga  Masjid KH Ahmad Dahlan Gresik

Terlepas dari cerita sejarah Jembatan Merah, Surabaya merupakan Kota yang kaya akan peninggalan sejarah, 10 November sendiri menjadi hari yang sangat bersejarah juga bagi arek-arek Surabaya, hingga kini 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kisah dibalik peristiwa tersebut adalah yang sudah kita bahas diatas yang berkaitan dengan sejarah Jembatan Merah, tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) mendompleng tentara Inggris (sekutu) saat masuk Indonesia pascakemerdekaan 17 Agustus 1945. Kedatangan tentara ini bertujuan untuk melucuti tentara Jepang yang menyerah pada Amerika Serikat setelah peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki.

Selain itu, tentara sekutu dan NICA ini pun berusaha agar Indonesia kembali menjadi jajahan Belanda. Tujuan para tentara ini pun menggerakkan perlawanan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Salah satunya perlawanan rakyat paling bersejarah yang sudah disebutkan yaitu pada 10 November 1945.

Jika teman-teman sedang mampir atau berkunjung ke Surabaya, teman-teman bisa sempatkan untuk melihat tempat-tempat bersejarah di Kota Suabaya, untuk harga yang kita keluarkan pun tergolong murah dibandingkan ilmu atau cerita sejarah yang kita dapat, di maksudkan untuk menghargai perjuangan Pahlawan yang jasanya tidak akan hilang ditelan waktu dan hingga saat ini kita pun ikut merasakannya, dan bertujuab untuk tetap merawat sejarah agar anak cucu kita tetap bisa melihat benda atau tempat bersejarah yang ada dikota mereka tinggal atau tempati.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Never miss any important news. Subscribe to our newsletter.