Kampung Kemasan Gresik, Kota Tua Sejak Abad ke- 18

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp
kampung kemasan
kampung kemasan
photo by_ BG/Wan

Sebagai kota tua dan memiliki banyak bukti sejarah Islam, Kota ini juga memiliki salah satu Wisata Budaya yang cukup terkenal di Gresik yaitu Kampung Kemasan yang berada di Jalan Nyai Ageng Arem-Arem gang III. Daerah Kampung Kemasan memiliki bangunan berkhas Eropa dan China. Khas Eropa bisa dilihat pada pilar-pilar penyangga atapnya, jendela dan pintu relatif besar. Sedangkan khas China dapat dilihat pada atap dan pemakaian warna dominan merah.

Sejarah Kampung Kemasan

Pada tahun 1853 ditepi sungai kecil yang menghubungkan Desa Dendo melewati perkampungan-perkampungan penduduk dan berakhir di lautan lepas di Kota Gresik yang gersang dan tandus, berdiri sebuah rumah yang dibangun oleh seorang keturunan China bernama Bak Liong yang memiliki keterampilan membuat kerajinan dari emas. Keterampilannya ini menjadikan dia terkenal dan banyak penduduk yang datang untuk membuat atau memperbaiki perhiasannya. Sejak saat itu kawasan yang ditempatinya dinamakan Kampung Kemasan (tukang emas).

Pada tahun 1855, H. Oemar bin Ahmad yang dikenal sebagai pedagang kulit mendirikan sebuah rumah di kawasan ini. Disamping pedagang kulit beliaupun berusaha dalam penangkaran burung Walet. Hingga enam tahun kemudian tepatnya pada tahun 1861 setelah usaha kulitnya semakin maju, beliaupun mendirikan dua buah rumah lagi yang terletak di sebelah kiri rumahnya yang pertama.

Pada tahun 1896, ketika kesehatan dan kekuatan H.Oemar mulai menurun, beliaupun menginginkan anak-anaknya untuk meneruskan usaha perkulitannya. Ketujuh anaknya tersebut yaitu Pak Asnar, Marhabu, Abdullah, H. Djaelan, H. Djaenoeddin, H. Moechsin dan H. Abdoel Gaffar. Diantara ketujuh anak H. Oemar yang tertarik untuk melanjutkan usaha perkulitan ialah Pak Asnar, H. Djaenoeddin, H. Moechsin dan H. Abdoel Gaffar.

Kelima anaknya tersebut setelah dua tahun melanjutkan usaha bapaknya kemudian mendirikan Pabrik Penyamakan Kulit yang berlokasi di Desa Kebungson Gresik. Dan sejak pabrik itu berdiri maka usaha ini tidak hanya berhubungan dengan pengusaha kulit di Gresik dan sekitarnya, seperti Surabaya, Sidoarjo, Lamongan tetapi sudah berhubung dengan 22 Kabupaten di Pulau Jawa. Diantaranya Batavia, Semarang, Solo, Panarukan dan lain-lain.

Adanya Pabrik Penyamakan Kulit ini boleh dikatakan telah memberikan kontribusi bagi perkembangan Gresik sebagai Kota Dagang. Bahkan manakala sistem kolonial tidak memberikan tempat bagi kemunculan kelas pengusaha lemah pribumi. Pengusaha menengah pribumi Gresik mampu bertahan menghadapi tekanan itu. Mereka bisa bersaing dengan kelas pedagang perantara yang sebagian besar dari Komunitas China dan Arab.

Baca Juga  Masjid KH Ahmad Dahlan Gresik

Pada awal abad ke- 20, Gresik sudah mampu melahirkan pengusaha-pengusaha kelas menengah yang berhasil. Dari hasil Pabrik Penyamakan Kulit dan ditambah dari hasil penjualan liur walet, keluarga keturunan H. Oemar bin Ahmad ini berhasil mendirikan sedretan rumah di Kampung Kemasan yang saling berhadapan.

Arsitektur rumah tinggal di Kampung Kemasan mendapat pengaruh dari kebudayaan-kebudayaan asing yang terlihat baik dari bentuk, ruang, elemen, ornamen maupun makna simbolik yang berada di dalamnya. Adanya ciri khas perpaduan budaya pada bangunan di Kampung Kemasan ini merupakan suatu warisan bangsa yang harus di lestarikan di tengah era globalisasi ini, dimana terdapat banyak bangunan lain yang telah kehilangan identitas serta sejarah yang dimilikinya karena gencarnya renovasi dan modernisasi. Kebudayaan yang dominan dalam proses alkuturasi ini adalah kebudayaan Kolonial Belanda, sedangkan pengaruh kesukuan yang lebih minornya adalah kebudayaan China.

Ciri arsitektur Kolonial Belanda atau secara khusus yaitu Arsitektur Indische Empire Style yang terlihat di rumah-rumah tinggal di Kampung Kemasan dapat dilihat dari aspek fisiknya (bentuk, ruang, kontruksi, elemen dan ornamen). Sedangkan ciri arsitektur China yang terlihat pada rumah-rumah tinggal di Kampung Kemasasan ini dapat dilihat dari aspek fisik (ruang dan elemen) dan aspek non fisiknya (makna simbolik).

rumah gajah mungkur
photo by_ BG/Wan

Boleh dikatakan bangunannya memiliki keunikan arsitektur yang pada periodisasi tertentu menjadi ikon kemajuan Kota Gresik. Gaya arsitektur yang beragam yaitu kolonial, china yang memiliki usia rata-rata 115 tahun. Bangunan yang paling menonjol di kawasan Kampung Kemasan adalah rumah tinggal Gajah Mungkur yang pemiliknya adalah H. Djaelan putra ke- empat dari H. Oemar bin Ahmad. Dari 23 buah bangunan di Kampung Kemasan sampai saat ini yang masih bisa dikategorikan sebagai bangunan Cagar Budaya tinggal 16 bangunan saja.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Never miss any important news. Subscribe to our newsletter.