Gus Yani Hadiri Tradisi Semarak Sanggring Kolak Ayam Gumeno

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Gresik -Sebagai kota yang sudah hidup dan tumbuh sejak ratusan tahun, Gresik kaya akan berbagai macam warisan tradisi, Salah satunya ya tradisi Sanggring kolak ayam ini, Nah pemudi pemuda ini tahukah tradisi sanggring ini awal mulanya dari mana ? Karena kolak ayam ini identik dengan Gresik, Identik dengan Gumeno jangan sampai pemuda Gumeno sendiri tidak tahu asal usulnya, Lalu nanti siapa yang akan meneruskan tradisi ini.

Hal ini disampaikan Bupati Gresik, H. Fandi Akhmad Yani, SE saat menghadiri acara “Semarak Sanggring ke 497” atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Kolak Ayam di Mesjid Sunan Dalem Desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupeten Gresik, Minggu (24/04/2022).

Khas Gresik, Gresik,

“Gresik merupakan kota tua banyak peradaban banyak warisan, tradisi, budaya dan sejarah-sejarah yang harus tetap kita lestarikan”.

Menurut Bupati Gus Yani, Tradisi sanggring kolak ayam di malam ke 23 di bulan Ramadhan merupakan salah satu tradisi warisan budaya kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Tradisi tersebut telah berjalan turun temurun sejak masa dakwah Putra Sunan Giri pada 1540 lalu.” ujarnya.

“Asal mulanya tradisi Kolak Ayam ini tidak lepas dari kisah Sunan Dalem Putra kedua dari Kanjeng Sunan Giri yang membangun masjid di Desa Gumeno sebagai usaha dalam menyebarkan syiar Islam, Setelah tidak lama masjid yang di bangunnya berdiri Kanjeng Sunan Dalem malah jatuh sakit di Desa Gumeno pula.” sambungnya.

Lebih lanjut dikatakan, Karena sakit yang dideritanya ia selalu mengkonsumsi rempah-rempah yang berasal dari daging ayam, jinten dan berbagai macam campuran rempah, Resep ini Konon katanya diberikan langsung oleh Mbah Kanjeng Sunan Giri melalui mimpi Sunan Dalem, Sehingga resep ini terus dipakai sampai dilestarikan menjadi tradisi Sanggring Kolak Ayam.

Nama Sanggring berasal dari kata Sang yang artinya Raja/Penggedhe dan Gring yang artinya gering atau sakit. Jadi Sanggring artinya raja yang sakit. Kepatuhan kepada beliau, maka warga Desa Gumeno selalu melanjutkan tradisi tersebut setiap tahun. Juga disebut Kolak Ayam karena bahan utamanya memang berupa daging ayam yang dimasak menggunakan santan sehingga menyerupai kolak.” terang Bupati Gus Yani.

Prosesi memasak Kolak Ayam yang pertama tersebut bertepatan pada tanggal 22 Ramadhan 946 H (31 Januari 1540 M). Sunan Dalem kemudian berwasiat kepada semua penduduk agar tiap-tiap tahun pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan diadakan Sanggring / Kolak Ayam.

Baca Juga  Polres Gresik Bagikan Nasi Bungkus dan Air Mineral Kepada Sopir yang Terjebak Macet

“Lalu Uniknya lagi proses pembuatan kolak ayam yang selalu menarik perhatian saya adalah dimasak bersama sama dan pemasaknya harus laki-laki.” ungkapnya.

Bupati Gus Yani sebagai kepala daerah mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Desa Gumeno yang selalu berupaya tetap mempertahankan tradisi warisan budaya Takbenda Sanggring/Kolak ayam setiap malam ke 23 di bulan Ramadhan yang sampai saat ini tetap bertahan dan selalu ramai setiap tahunnya.

“Terima kasih kepada masyarakat Desa Gumeno, karena telah mempertahankan warisan budaya Takbenda, Tradisi kolak ayam yang turun temurun hingga saat ini. Dan tradisi ini merupakan kearifan lokal yang harus dipertahankan dan dilestarikan, mengingat Gresik adalah kota wali dan kota santri,” kata Bupati Gus Yani.

“Jangan lupakan warisan budaya, sejarah atau tradisi-tradisi pendahulu kita, karena itu juga merupakan sarana silaturahmi, sarana dakwah yang sangat bermanfaat bagi kita semua,” tutup Bupati Gus Yani.

Khas Gresik, Gresik,

Sementara itu, Kepala Desa Gumeno, Hasan Fatoni menambahkan, Tradisi Sanggring Kolak Ayam sejak dilanda Pandemi Covid-19 selama dua tahun tetap diadakan namun tidak dibuka untuk umum hanya menyediakan untuk warga lokal saja dan alhamdulillah tahun ini kita buka untuk umum.

“Untuk membuat 3000 bungkus Kolak Ayam dibutuhkan 750 kg gula merah, 250 ekor ayam, 2 kuintal bawang daun, 700 butir kelapa, dan 50 kg jinten bubuk,” ungkapnya.

“Untuk biaya pembuatan kolak ayam sendiri telah menghabiskan biaya sekitar 130 juta dan Alhamdulillah sebagian dibantu oleh beberapa perusahaan di Kabupaten Gresik.” pungkasnya.

Hadir dalam acara tersebut, Kadis Parekrafbudpora Kabupaten Gresik, Sutaji Rudy, Kepala Bappeda Kabupaten Gresik, Munir, Forpimcam Manyar, Kepala Desa Gumeno, Hasan Fatoni beserta perangkat, Rois Suriyah MWC NU Manyar, KH. Suhali, Ketua Ta’mir Masjid Sunan Dalem Gumeno, KH. Moh Ali Hasan, Ketua MWC NU Bungah, KH. Ali Murtadho, juga dihadiri Qori taraf Internasional, Ustadz H. Zulfikar Basyaiban.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Never miss any important news. Subscribe to our newsletter.