Mengulik 3 tradisi yang dinantikan saat bulan Ramadhan di Gresik

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp
Tradisi

Jika berbicara tentang Indonesia, Indonesia adalah negeri yang kaya akan Budaya, Adat, Tradisi, Suku dan masih banyak keragaman yang lainnya.
di setiap daerah pasti memiliki budaya, makanan khas, pakaian masing-masing yang dalam arti berbeda disetiap daerahnya.

Misalnya di Gresik, Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur ini memiliki makanan yang khas seperti pudak dan otak-otak. Selain itu, memiliki batik yang populer yakni batik pamiluto ceplokan dan batik ndulit sisik bandeng.

Lalu jika berbicara lagi mengenai Kabupaten Gresik, Gresik juga memiliki banyak tradisi dan kali ini yang akan kita bahas adalah adat istiadat Kabupaten Gresik saat dijalankannya ibadah puasa yaitu Bulan Ramadhan. disini kita akan membahas 3 yang menjadi terpopuler dilakukan atau dilaksanakan di berbagai penjuru Kabupaten Gresik.

Tradisi Kolak Ayam

Tradisi
sumber : https://regional.kompas.com/read/2021/05/04/192014578/tradisi-kolak-ayam-wasiat-sunan-dalem-yang-dipertahankan-warga-desa-gumeno?page=all

Kolak Ayam mulanya berawal dari kisah Sunan Dalem yang merupakan seorang waliyullah yang berdakwah di Desa Gumeno, Putra Sunan Giri berenama lengkap  Syeikh Maulana Zaenal Abidin  ini membangun masjid di desa Gumeno sebagai tempat ibadah sekaligus tempat syiar Islam disana.

Tidak lama setelah  masjid selesai, Sunan Dalem jatuh sakit. Karena itu para santrinya berusaha mencari obat. Akhirnya Sunan Dalem memperoleh mimpi untuk memakan makanan yang diolah dari ayam jago muda. Setelah mengonsumsi kolak, Sunan Dalem pun sembuh dari sakit yang deritanya.
Dan peristiwa ini pun dijuluki dengan Sanggring, kependekan dari kata “Sang” (raja, pemimpin) dan “Gering” (sakit).

Sejak saat itu membuat Kolak Ayam setiap malam ke 23 Ramadhan menjadi sebuah adat masyarakat Gumeno untuk menghormati Sunan Dalem.

Uniknya yang bertugas untuk membuat kolak tersebut adalah kaum laki-laki mulai dari menyiapkan bahan, mengolah atau memasak hingga membagikannya. Para laki-laki bekerja sama bahu membahu untuk membuat kolak dalam jumlah besar yang akan dibagikan kepada masyarakat yang berbuka puasa di masjid dan ada juga yang dijual.

Kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin Kabupaten Gresik yang tercatat di kalender pariwisata karena mampu menyerap animo masyarakat luas Gresik. Masyarakat luar Gresik juga ingin mencicipi kolak dan membuktikan khasiatnya bagi kesehatan.

Kolak Ayam Gresik merupakan salah satu kebudayaan yang harus dilestarikan. Jangan sampai tradisi ini hilang tergerus oleh modernisasi zaman. Tidak ada ruginya menjaga apa yang sudah ada sejak warisan nenek moyang.

Baca Juga  Pantauan LFNU Gresik, Hilal Tidak Terlihat di Balai Rukyat Bukit Condrodipo

Tradisi Malam Selawe

Khas Gresik, Gresik,
sumber : https://budaya-indonesia.org/Malam-Selawe

Malam Selawe dilakukan setahun sekali yakni malam selawe juga turut dinantikan oleh pengunjung khususnya warga Gresik. Tradisi ini merupakan tradisi ngalap berkah atau mencari keberkahan di bulan Ramadhan dimana umat muslim menunggu datangnya malam Lailatul Qadar. Tradisi ini dilaksanakan pada malam menjelang hari ke-25 bulan Ramadhan yang dilakukan di area makam Sunan Giri di Kebomas dan juga di Masjid Jamik Sunan Giri.

Menurut sejarah, Adat ini merupakan peninggalan Sunan Giri yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh warga setempat. Kegiatan ini awalnya dilakukan oleh Sunan Giri beserta para santrinya yang dipusatkan di Masjid Jami’ Sunan Giri sebelum para santri pulang ke tempat asalnya. Malam Selawe ini rutin dilakukan sejak wafatnya Sunan Giri sampai sekarang, oleh karena itu biasanya para santri melakukan ziarah ke makam Sunan Giri.

Malam Selawe ini biasanya dilakukan oleh pengunjung dengan melakukan i’tikaf, shalat sunnah, ataupun tahlilan di Masjid Jami’ Sunan Giri. Selain itu, para pengunjung biasanya juga melakukan ziarah ke makam Sunan Giri.

Kebiasaan berziarah dan mencari keberkahan ini dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat dan bukan hanya warga setempat atau para santri saja, akan tetapi dari segala penjuru daerah ikut meramaikan tradisi ini. Ada yang dari lamongan, tuban, sidoarjo, malang, dan lain-lain.

Biasanya para pengunjung tidur di area makam, bahkan ada yang menginap untuk beberapa hari agar bisa beribadah di kompleks makam pada malam-malam ganjil di akhir bulan Ramadhan. Dan malam-malam ganjil tersebut puncaknya adalah di Malam Selawe.

Selain berziarah di makan Sunan Giri, masyarakat juga biasanya berziarah di Sunan Prapen yang terletak tidak jauh dari makam Sunan Giri yakni sekitar 300 meter barat kompleks makan Sunan Giri.

Tidak hanya berziarah atau mencari keberkahan saja yang ada di malam selawe ini, di sepanjang jalan Sunan Giri hingga jalan Sunan Prapen banyak sekali PKL yang sedang menjajakan dagangannya untuk mencari keuntungan. Dimulai dari menjual makanan, minuman, makanan khas gresik, pakaian, aksesoris,mainan anak-anak dan lain sebagainya.

Tradisi Pasar Bandeng

Khas Gresik, Gresik,
sumber : https://www.merdeka.com/jatim/intip-kemeriahan-tradisi-pasar-bandeng-di-gresik-ada-kontes-ikan-raksasa.html

yang ketiga dan menjadi yang terakhir adalah Pasar Bandeng. Pasar Bandeng dilakukan setiap bulan ramadhan, yakni pada malam ke-27 sampai malam ke-29 bulan ramadhan. Kegiatan ini hanya dilakukan setahun sekali. Menurut sejarah, Pasar Bandeng bermula untuk memenuhi kebutuhan para santri Sunan Giri di pondok pesantren Giri Kedaton.

Baca Juga  Kisah Sunan Giri dan Kerajaan Islam, Giri Kedaton Abad Ke 13

Mudik menjelang lebaran dan pulang ke kampung halaman untuk berlebaran, umumnya dimanfaatkan para santri turun bukit menuju ke kota untuk mencari oleh-oleh yang menjadi khas Gresik. Kala itu olahan bandeng menjadi khas Kabupaten Gresik sehingga banyak santri yang memilih bandeng untuk di bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk menyambut malam takbiran atau untuk memeriahkan hari kemenangan agama islam (hari raya idul fitri).

Pasar bandeng ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan mereka dalam menjalankan ibadah puasa, sekaligus menunjukkan kepawaian dalam bidang pertambakan ikan bandeng dan juga untuk mengingat adat dan melestarikan budaya agar tidak hilang.

Selain itu, kemeriahan pasar bandeng juga sangat membantu ekonomi petambak karena mereka bisa langsung menjajakan atau menjual bandeng ke pembeli tanpa melalui perantara.

Tempat pelaksanaan pasar bandeng ini dilakukan di sepanjang Pasar Gresik Jl.Gubernur Suryo – Jl. Samanhudi – Jl. HOS Cokroaminoto – Jl. Raden Santri hingga Alun-alun Gresik.

Ikan bandeng di tempat ini nilainya berbeda dengan yang ada di pasaran-pasar lainnya, karena pembeli dapat merasakan bandeng yang gurih, tidak ada bau tanah dan ukurannya juga besar.

Bahkan ada kebiasaan orang kaya atau berduit yang senang berburu bandeng besar serta bermutu terbaik di arena itu. Harga bandeng ditempat tersebut begitu bervariasi tergantung pintar- pintarnya kita menawar serta berat bandeng dan kualitasnya.

Selain pasar bandeng juga ada Kontes Bandeng Tradisional. Kontes khusus bandeng besar diberikan tempat berupa panggung yang digunakan untuk pelelangan. Pelelangan ini dilakukan seperti bandeng konser, yang terberat dan terbesar.

Bandeng besar satu ekor biasanya beratnya bisa mencapai 10 kilogram lebih. Harganya bisa jutaan rupiah. Dengan begitu, para petambak bandeng terus bisa membudidayakan tambak bandengnya. Dan di sisi lain,masyarakat Gresik bisa menikmati hasil bumi kekayaan daerahnya.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Never miss any important news. Subscribe to our newsletter.